Wednesday, February 5, 2014
0 komentar

Mengapa World Coral Reef Conference Tidak Seharusnya Diselenggarakan di Manado

Kids from Tambun village (Talise Island; opposite of Bangka Island), September 2013.
Anak-anak dari Desa Tambun (Pulau Talise; kebalikan dari Pulau Bangka), September 2013.
Kids from Tambun village (Talise Island; opposite of Bangka Island), September 2013.
Mengapa Konferensi Terumbu Karang Dunia (World Coral Reef Conference) Tidak Seharusnya Diselenggarakan di Manado-Sulawesi Utara-Indonesia.

Kantor Pusat CTI (Coral Triangle Initiative) di Manado
Gedung CTI Centre di Manado.
Hanya berjarak 35 km jauhnya dari Kantor Pusat CTI (Coral Triangle Initiative) di Manado, Sulawesi Utara, sebuah gedung dengan dana miliaran rupiah, terdapat sebuah pulau kecil bernama Bangka yang kini terancam diekploitasi untuk pertambangan mineral. Gubernur Sulut dan Bupati Minut bahkan memberi lampu hijau kepada sebuah perusahaan Cina untuk melanjutkan rencana mereka yang merusak meskipun timbul penolakan dari masyarakat lokal serta keputusan Mahkamah Agung Indonesia yang memutuskan agar semua izin yang telah diberikan sejauh ini Harus Dibatalkan.

Monumen Coral Triangle Initiative di Manado
Monumen CTI (Coral Triangle Initiative) di Manado.
Pulau Bangka memiliki pantai yang indah berpasir putih, terumbu karang berwarna-warni, serta di daratan yang kaya akan flora dan faunanya, termasuk Elang Laut, primata nocturnal Tarsius Spectrum, dan hewan berkantung seperti Kuskus - dimana semua satwa tersebut masuk dalam daftar merah IUCN. Kawasan hutan mangrove yang juga dilindungi oleh hukum. Kawasan perairan serta lingkungan sekitar pulau merupakan rumah bagi berbagai makhluk unik seperti fosil hidup ikan prasejarah Coelacanth, mamalia laut seperti Duyung/Dugong, Hiu Paus, serta Lumba-lumba. Kawasan mangrove di sekitar pulau membantu menjaga stabilitas laut dan kehidupan di darat serta membantu mencegah dampak pemanasan global, sementara pada saat yang sama, juga membantu menjaga sumber makanan di laut untuk masa depan.

Pulau Bangka juga merupakan bagian tak terpisahkan dari industri wisata bahari Sulawesi Utara - merupakan sumber pendapatan dan penghidupan bagi ribuan orang. Pertambangan hanya akan membawa dampak merugikan dalam pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Kawasan menyelam yang terkenal di seantero dunia seperti Taman Laut Nasional Bunaken dan Selat Lembeh juga akan terkena dapaknya. Dalam jangka panjang, nantinya Sulawesi Utara mungkin akan lenyap dari peta wisata bahari.

Pulau Bangka
Pesona Pantai Pulau Bangka.
Jika rencana penambangan Pulau Bangka tetap berlangsung, ini tidak hanya akan mengancam masyarakat nelayan setempat yang menghuni pulau tersebut, tetapi juga kehidupan laut yang terdapat di daerah ini. Meskipun mendapat pertentangan sengit di provinsi ini yang menyebabkan beberapa upaya untuk mendesak Kementerian yang bertanggung jawab serta meskipun melanggar hukum, Pemerintah Pusat/Nasional tidak melakukan tindakan apapun untuk menghentikan rancangan yang merusak dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara tersebut.

Gubernur Sulawesi Utara yang maju sebagai calon presiden dalam konvensi Partai Demokrat, sepenuhnya mendukung kebijakan "Blue Economy" versi Indonesia yang intinya lebih pada kepedulian terhadap pulau-pulau kecil, yang pada dasarnya dilindungi oleh hukum dari industri pertambangan yang merusak, bahkan untuk investasi asing skala besar di sektor pertambangan. Pencetus program Blue Economy (Ekonomi Biru) tersebut tak lain adalah Presiden Indonesia dan Partai Demokrat-nya.

Di tingkatan Nasional pun DPR mengesahkan revisi terhadap UU No. 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, untuk tujuan tersebut. Pada tingkat provinsi DPRD Sulawesi Utara pada November 2013 mengesahkan rancangan tata ruang pembangunan jangka panjang (lihat RTRW Sulut) untuk mengakomodasi pertambangan di pulau Bangka. Semua itu diatur demi kepentingan dan keuntungan pribadi dengan adanya industri pertambangan tersebut.

Pada tahun 2009 lalu, pada saat Manado menjadi tuan rumah World Ocean Conference yang mencetuskan lahirnya Coral Triangle Initiative dimana para pemimpin dari enam negara Pasifik termasuk Indonesia menandatangani perjanjian untuk melindungi pulau-pulau kecil dan wilayah pesisir demi generasi mendatang dengan mengutamakan pembangunan yang ramah lingkungan melalui perusahaan skala kecil di sektor perikanan, pariwisata dan pertanian.

Sekarang Manado telah tetapkan menjadi tuan rumah World Coral Reef Conference (Konferensi Terumbu Karang Dunia) oleh Pemerintah Indonesia tahun ini. Dengan demikian Indonesia telah menipu dunia dan mengkhianati prinsip-prinsip World Ocean Conference dan Coral Triangle Summit yang telah disepakati di Manado pada tahun 2009.

SUDAH SAATNYA...!
Untuk mengingatkan Indonesia tentang perjanjian internasional yang telah disepakati tersebut.

Kita butuh sebuah aliansi yang lebih luas termasuk dari LSM, ilmuwan kelautan (dari ilmuwan yang diundang menghadiri World Coral Reef Conference) dan lembaga internasional seperti PBB untuk mendesak dan menuntut agar TIDAK MEPERCAYAKAN INDONESIA MENJADI TUAN RUMAH UNTUK MENYELENGGARAKAN WORLD CORALREEF CONFERENCE DI MANADO kecuali rencana PERTAMBANGAN di Pulau Bangka dan kebijakan yang menyimpang dari program "Blue Economy" segera dibatalkan.

Save Bangka Island
Jempol Hijau "Aku Cinta Bangka"

Latar belakang pulau bangka
Anak-anak dari Desa Tambun dengan latar pulau Bangka
(Pulau Talise; kebalikan dari Pulau Bangka), September 2013.
PRAKARSA PENYELAMATAN PULAU BANGKA, PULAU KECIL di SULAWESI UTARA.






Versi Bahasa Inggris:
Why the World Coral Reef Conference should not not take place in Manado/ North Sulawesi/ Indonesia

35 kms away from the Regional Headquarter of the Coral Triangle Initiative in Manado,North Sulawesi, a multi-million dollar building, the small island Bangka is on the verge tobe blown up for mineral mining. The provincial Governor and the Regency head gave aChinese company green light to go ahead with their destructive plans despite the resistanceof the local communities and an Indonesian Supreme Court decision that ruled all permitsgranted so far have to be cancelled.

Bangka Island possesses beautiful white sandy beaches, colourful coral reefs, and a rich floraand fauna on land including sea eagles, nocturnal primate tarsius spectrum, and marsupialbear cuscus — all on the IUCN red list. Its forest and mangroves are protected by law. Themarine environment of the island hosts various unique creatures like the prehistoric livingfossil fish coelacanth, the sea mammal dugong, whale sharks, and also dolphins. Themangrove areas of the island help keep the stability of marine and terrestrial life and helpprevent global warming, while at the same time, help secure future sources of marine food.

Bangka Island is part of the marine tourism industry of North Sulawesi — a source of incomeand livelihood to thousands of people. Mining will bring detrimental effects on the economyand sustainable growth. World-renowned dive areas like Bunaken National Marine Park andLembeh Strait will also be affected. In the long term, North Sulawesi may vanish from themarine tourism map.

If the mining plans for Bangka Island go ahead, this will not only threaten local fishingcommunities who live on the island, but also the marine life found in this area. Despite thefierce resistance in the province which resulted in several attempts of intervention to theresponsible Ministries and despite the violation of the law, the National Government doesnothing to stop the North Sulawesi Provincial Government from its destructive plans.

The North Sulawesi Governor who stands as a presidential candidate in the Democrats partyconvention, fully supports Indonesia’s version of the “Blue Economy” policy which basicallyopens up small islands, formerly protected by law from extractive and destructive industries,for large scale foreign investment in the mining sector. Progenitors of the Blue Economyprogram are the Indonesian President and his Democrat Party.

On the national level the Indonesian parliament in December 2013 pulled through a re-writeof Constitutional Law 27/ 2007 for this purpose. On the provincial level the North Sulawesiparliament in November 2013 drew through as well a re-write of the long-term spatialdevelopment plan to accomodate mining on Bangka island. It’s all set for big private moneydeals with extractive industries.

It was Manado that hosted the World Ocean Conference in 2009 which gave birth to the Coral Triangle Initiative of six Pacific countries including Indonesia whose leaders signed the treaty to protect its small islands and coastal areas for future generations by promoting development through small scale environmentally friendly enterprises in the sectors of fishery, tourism and agriculture.

Now Manado is mapped out by the Indonesian Government to host the World Coral Reef Conference this year. This way Indonesia deceives the world and betrays the principles of the World Ocean Conference and the Coral Triangle Summit which were adopted in Manado in 2009.

IT IS HIGH TIME

To remind Indonesia of the International treaties that were signed

We need a broad alliance of NGOs, marine scientists (out of the audience of scientists who are invited to the World Coral Reef Conference) and International Agencies like the UN to interfere and demand INDONESIA NOT TO BE TRUSTED TO HOST THE WORLD CORAL REEF CONFERENCE IN MANADO unless the mining plans for Bangka and the distorted version of the “Blue Economy” program will be cancelled.

SAVE SMALL ISLAND BANGKA NORTH SULAWESI INITIATIVE



***dukung kami melalui: 

http://www.facebook.com/groups/SaveBangkaIsland
http://www.change.org/SaveBangkaIsland


0 komentar:

 
Toggle Footer
Top